96% Netter Cilik Indonesia Ternyata Punya Pengalaman Buruk

Posted on

(Internet Sehat) Sebuah survei yang dilakukan oleh Symantec mengungkapkan fakta yang mencengangkan tentang pengalaman online anak di internet. Sebanyak 96% anak di Indonesia yang menggunakan Internet ternyata punya pengalaman buruk saat online. Dan 35 persen anak mengaku diajak ketemuan di dunia nyata oleh seseorang yang mereka tidak kenal di internet.

Ini terjadi karena kurangnya perhatian dan komunikasi dari para orangtua dalam mengawasi aktivitas online anak mereka. Dari survei terungkap bahwa tiga dari sepuluh orangtua ternyata tidak waspada dengan konten yang dikonsumsi anak mereka ketika online. Dan hanya satu dari tiga orangtua yang mengetahui konten apa saja yang dilihat anak saat online.

Hal ini membuka celah bagi anak untuk membuka atau men-download konten yang tidak pantas (seperti pornografi, kekerasan, perjudian), membeberkan informasi pribadi terlalu banyak, atau bahkan ancaman virus komputer.

Memang tidak mudah bagi orangtua untuk mencari tahu apakah anak mereka menjadi korban kejahatan cyber. Sebagai contoh, jika anak diintimidasi secara fisik di sekolah mungkin bisa diketahui lewat memar pada tubuhnya atau pakaian yang robek. Namun intimidasi di dunia maya (cyberbullying) tidak meninggalkan tanda fisik apapun pada anak.

Dari survei juga terungkap bahwa pengalaman buruk di internet sedikit banyak akan mempengaruhi sisi emosional anak-anak, antara lain merasa marah, bingung, takut, terganggu, kaget, khawatir, hingga jijik karena telah melihat konten negatif.

Oleh karena itu, sangat penting bagi orangtua untuk menjalin komunikasi secara terbuka dengan anak tentang pengalaman online anak mereka. Jadilah sahabat bagi anak sehingga mereka tidak mereka takut dimarahi ketika kedapatan mengakses konten negatif. Temani anak ketika mengakses internet dan berikan penjelasan mana yang boleh diakses dan yang tidak.

Beri informasi sebanyak-banyaknya kepada anak tentang ancaman dan risiko yang mengintai mereka di dunia maya, buatlah kesepakatan dan aturan dalam menggunakan internet, dan gunakan software parental control untuk membantu melindungi anak. Selain itu, tempatkan komputer di tempat strategis di rumah sehingga bisa dipantau.

Bagaimanapun, internet tidak hanya telah berhasil merevolusi kita dalam mencari informasi, mendapatkan hiburan dan melakukan bisnis, tetapi juga dalam hal kehidupan sosial. Teknologi internet memiliki dampak positif, tapi perlu diingat bahwa ancaman kejahatan di internet juga meningkat.

Siapapun yang mengakses internet berisiko menjadi korban kejahatan cyber, karena kelompok kejahatan cyber yang berkeliaran di internet sudah sangat terorganisir. Karena itu, waspadalah!

Survei ini sendiri dilakukan secara online dengan melibatkan 499 orang dewasa berusia di atas 18 tahun. Dari jumlah itu, 102 orang di antaranya adalah orangtua yang memiliki anak berusia 10-17 tahun. Sementara untuk anak-anak, survei ini melibatkan 112 orang anak berusia 10-17 tahun, rata-rata menghabiskan waktu untuk online lebih dari 1 jam per minggu. Survei ini juga digelar secara global melibatkan 14 negara, dengan total responden 10.000 orang anak-anak dan orang dewasa.

[dew / Tim Internet Sehat]

Gravatar Image
Suka jalan-jalan, naik sepeda, bermain code-code asal tidak suka mengkode cinta. Hubungi email : andhika.na@gmail.com jika anda butuh website untuk personal maupun bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.