Malam Dinamis dan Atraktif, Sambut Abad Kedua Muhammadiyah

Posted on


Yogyakarta – Malam Taaruf Muktamar Muhammadiyah Ke-46 yang juga malam syukuran Muktamar Seabad Muhammadiyah, sabtu malam (03/07/2010) begitu membekas dihati penonton, pengisi acara, maupun para tokoh yang hadir di Stadion Mandala Krida. Tema Muktamar Gerak Melintas Zaman, Dakwah dan Tadjid Menuju Peradaban Utama coba disuguhkan para seniman, budayawan Muhammadiyah beserta para simpatisan seniman kota Yogyakarta.

Dipuncak acara, sejenak seisi stadion terdiam ketika para penari berkostum lampu light emitting diode (LED) membentuk formasi akhir berlatar musik . Penari utama Didik Ninithowok berada di tengah-tengah formasi 250 penari yang memancarkan cahaya dinamis kehijauan diseluruh penjuru arena, dikuti munculnya sinar laser hijau seakan memancar dari penari utama ke segala penjuru stadion.

Beberapa saat formasi itu terus bertahan, sinar laser terus bergerak dinamis, cahaya kehijauan di segala penjuru arena terus bergoyang dan akhirnya tepuk tangan membahana menyambut ledakan kembang api yang muncul di belakang replika Masjid Gedhe Kauman di sisi timur stadion dan Muhammadiyah Syimfoni Orchestra mengiringi Ita Purnamasati dan Heidi Yunus menyanyikan lagu Tema Muktamar. Praktis paduan suara raksasa membahana ketika semua yang hadir ikut menyanyikan lagi lagu garapan Dwiki Dharmawan dan Din Syamsuddin itu.

Spektakuler

Suharno, seorang penggembira dari Kulonprogo yang berada di tribun utara mengatakan bahwa acara malam taaruf ini sangat mengesankan. “Muhammadiyah benar-benar spektakuler, modern, hebat luar biasa” kata Suharno. Sementar menurut Sa’adi, seorang penggembira yang datang dari Semarang mengakui kalau dia sangat terkesan. “Kalo saya tidak datang saya pasti menyesal, padahal saya tadi hampir tidak datang karena ada bola di tv” katanya.

Safni dari Sumatera Barat yang berada di tibun penggembira bagian selatan menyatakan sangat puas dengan pertunjukan. Dengan wajah berseri-seri, dia mengatakan senang, puas melihat acara Malam Taaruf ini. Temannya, Marsyofi’ah terlihat menghentakkan kaki mengikuti irama Lagu Tema Muktamar, hingga acara usai. Hingga ada seorang ibu berseragam ‘Aisyiyah bernamma Supi, berasal dari Yogyakarta, yang menangis melihat pergelaran ta’aruf ini.

Bahkan ada seorang anak bernama Gilang dari Manijau, Sumatera Barat yang masih semangat, walaupun malam telah larut. Dia bernyanyi dengan senangnya, berteriak dengan semangatnya sambil menikmati Tarian Lighting yang sangat memukau. Terlebih ketika pesta kembang api diluncurkan.

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Din Syamsuddin ketika diwawancarai setelah acara berakhir mengucapkan rasa syukurnya. ”Alhamdulillah, ini menunjukkan kreatifitas Seniman, Budayawan Muhammadiyah dan juga simpatisan. Saya kira ini baru pertama kali di Muhammadiyah tapi juga ini merupakan pertunjukan lapangan paling spektakuler diIndonesia.”’ lanjutnya.

Bersatu dalam Keindonesiaan

Respon pengunjung terhadap keseluruhan acara yang kental dengan nuansa kolaborasi etnis-etnis di Indonesia dalam kemasan tari modern juga positif. Medley lagu daerah dari Kyai Kanjeng, Emha Ainun Najib dan Ita Purnama Sari. Rangkaian tari 500 penari Gerak Muhammadiyah Melintas Nusantara yang diawali renungan puisi Kenangan 100 Tahun dari taufiq Ismail melengkapi acara syukuran seabad Muhammadiyah itu.

“Saya senang dengan tari kolosalnya, karena semua daerah ditampilkan, dan menunjukkan sebagai cara Muhammadiya yang modern.” kata Suharno. “Isi yang ditampilkan pada malam ini adalah kebersamaan seluruh Indonesia, juga karena disini menampilkan tarian-tarian yang modern.” menurut Sa’adi.

Sedangkan menurut Heri Prasetio dari Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kalasan, Sleman, yang saat itu berada di tribun barat mengaku kalau acara ini penuh kejutan dan dia sanggat menikmati acara sdari awal hingga saat ini .

Pada waktu para penari di lapangan menarikan tari Sajojo, hampir semua berdiri, bertepuk tangan, bahkan ada yang ikut menari. Tribun khusus peserta Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah yang tampak paling ramai, bendera IPM berkibar disertai teriakan seiring teriakan penari.

Din Syamsuddin yang malam itu bersama Walikota Yogyakarta Herry Zudianto, Wakil Walikota Yogyakarta Hariadi Suyuti, Ketua PWM DI Yogyakarta Agung Danarto beberapa tamu dan tokoh Muhammadiyah hadir dalam balutan busana Jawa lengkap dengan blangkonnya mengaku kalau kreatifitas malam ta’aruf ini diserahkan kepada panitita penerima. “Konsepnya di informasikan dan di presentasikkan dan kita setuju” katanya.

Sementara itu Dwiki Dharmawan yang malam itu menjadi Conductor Muhammadiyah Syimponi Orchestra berpesan “Tidak hanya euforia malam ini semua kembali ke Jogja, tapi bagaimana ke depannya”.

Gravatar Image
Suka jalan-jalan, naik sepeda, bermain code-code asal tidak suka mengkode cinta. Hubungi email : andhika.na@gmail.com jika anda butuh website untuk personal maupun bisnis.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.